Tuesday, July 29, 2025

ai video

@Akbar Alatas:Link Webiste
https://belajarpakai.ai/
Link Telegram
https://t.me/+JIuoVBSRNbs3OGFl
Tools AI
https://seaweed-apt.com/2

Thursday, July 24, 2025

dua hukum dari Syaiful Karim

Berikut adalah transkripsi dari kutipan video YouTube yang Anda berikan [1-9]:

[1]
Lebih dahsyat lagi ini yang kedua ini pelajaran betul dan ini kalau dipraktikkan Bapak Ibu, Bapak Ibu semuanya, hmm berkelimpahan hidupmu. Saya bertahun-tahun menunggu intuisi dari semesta sampai saya bisa memahaminya dan sekarang saya berani menyampaikan ini di muka publik karena saya sudah benar-benar *firm* meyakini ternyata ini lebih dahsyat daripada hukum sebab akibat. Kita masuk lebih dalam, saya akan sampaikan dulu Quran surah Ar-Ra'du surah 13 ayat yang ke-11. Saya bacakan bahasa aslinya: "Lahu muaqibatun min baini yadaihi wamin khalfihi." Ini saya bacakan tidak menggunakan makhraj, "Lahu muaqibatum," ah enggak gitu, enggak boleh. "Min," karena nun mati ketemu ba harus mim, ya, hah. Nun mati ketemu ba kok jadi mim? Hebat ilmu tajwid itu. Ba itu adalah baitullah, nun itu adalah nurullah. Maka siapa yang sudah menemukan nurullah dalam baitullah, dia disebut mim, ahli makrifatullah, tuh gitu ilmu tajwidnya, hmm dengung, mim, ah getaran tuh energi. Udah sampai situ dulu, hah. "Lahu muaqibatun min baini yadaihi wamin khalfihi." Bagi manusia ada akibat yang selalu mengikutinya secara bergiliran. Silakan Bapak Ibu mau melakukan apa, Bapak Ibu mau memikirkan apa, merasakan apa, membicarakan apa, ingat semua yang terjadi itu adalah getaran yang sedang kita pancarkan ke semesta dan setiap aksi pasti ada reaksi. Jadi sebetulnya kita dalam hidup ini sedang diajarkan untuk belajar menanggung konsekuensi dari semua yang kita lakukan, itu yang disebut dengan akibat. Makanya bahasa Arabnya keren, ya, "Lahu muaqibatum min baini yaddaihi wamin kholfihi." Bagi manusia ada akibat yang selalu mengikutinya bergiliran di muka dan di belakang. Bingung kan? Bingung apa tidak? Atau enggak bingung Bapak Ibu? Saya baca ayat ini bingung dulu. Bapak Ibu enggak, ya? Saya nanya bingung apa tidak? Biasanya kalau mengikuti itu kan di belakang, ini mengikuti tapi di muka. Baru sadar kan bingungnya tadi tuh. Kalian bilang bingung sebetulnya hanya supaya disebut mikir aja sebetulnya, hmm kan baru kelihatan bingungnya setelah dijelaskan. Betul enggak? Gitu, dasar kalian itu, hmm. Jadi yang namanya akibat itu selalu mengikutinya dari belakang, betul enggak? Ini akibat kok mengikutinya di muka? Oh, saya bertahun-tahun menunggu intuisi dari semesta sampai saya bisa memahaminya dan sekarang saya berani menyampaikan ini di mu [1].

[2]
ka publik karena saya sudah benar-benar *firm* meyakini. Kenapa? Ternyata di alam ini ada dua hukum. Yang pertama, **hukum sebab akibat**, itu yang biasa normal kebanyakan orang begitu. Ternyata orang-orang kreatif tidak menggunakan hukum itu, menggunakan **hukum akibat sebab**. Kalau kita bersyukur terhadap apa yang sudah terjadi pada kita, biasa. Makanya orang-orang kreatif menciptakan satu cara mensyukuri apa yang belum terjadi dan merasakan seolah-olah yang belum terjadi itu sudah terjadi, itulah yang disebut dengan hukum akibat sebab. Ternyata ini lebih dahsyat daripada hukum sebab-akibat, mengikutinya di muka. Wah, harusnya ini bayar, enggak apa-apalah ya saking tingginya ilmu ini, gratis, hmm. Yang penting janjinya tadi, ya, apa tadi? Melakukan kebaikan tanpa pamrih. Sedang di mana Bapak Ibu sekarang? Sedang di sini. Ketemu siapa Bapak Ibu? Ketemu saya. Mau melakukan kebaikan apa janjimu? Awas itu sudah janji tadi, ya, mantra yang sebegitu mahalnya itu sudah saya bagikan, ya, oke. Lanjut, lanjut, lanjut. Ini harus bisa dimengerti, ya, Bapak Ibu. Mana coba? Bahagia dulu sukses dulu, hmm. Orang yang sukses dulu baru bahagia dia sedang menggunakan hukum sebab akibat. Jadi enggak, jadi enggak, nanti kalau saya sudah sukses saya akan bahagia. Pada saat dia mengatakan kalimat itu, jujur dia sedang bahagia atau sedang sedih? Sedang sedih. Nah, hukum tarik-menariknya mengatakan, **sedih akan menarik sedih**. Jadi sukses yang dia idamkan tidak akan terjadi. Kenapa? Karena dia menggunakan hukum sebab akibat. Kita sekarang kreatif menggunakan hukum akibat sebab. **Saya akan bahagia saat ini juga, kesuksesan akan datang.** Kenapa? Karena **bahagia akan menarik kebahagiaan**. Oke, saya kasih PR lagi. Bahagia dulu atau teman datang dulu, hmm? Kalau teman datang saya akan bahagia. Satu, teman belum tentu datang, betul. Yang kedua, bahagianya ditunggu, ditunda, betul. Dan kalau teman tidak datang kan tidak bahagia. Sekalipun teman datang, karena berdasarkan itu saya yakin itu, teman datang tidak akan bawa kebahagiaan, pinjam duit, cerita kesusahan. Kenapa? Karena hukum tarik-menarik sedang bekerja. Perhatikan saya, kalau teman datang saya akan bahagia. Saat dia berkata itu, sudah bahagia belum? Makanya sekalipun teman datang tidak akan membawa kebahagiaan, percaya sama saya. Pernah enggak Bapak Ibu kedatangan teman malah cut, ya [2]?

[3]
ng susah-susah, pernah enggak? Pernah apa sering? Kalian yang menariknya. Tapi kita sering tidak bertanggung jawab, padahal ayatnya jelas "Lahu muakibatum min baini yadaihi wamin khalfihi yahfadunahu." Ya, nah ternyata itu semua "min amrillah", itu hadir karena perintah Allah. Jadi alam semesta ini sebetulnya menganut dua hukum: **sebab akibat dan akibat-sebab**. Bapak Ibu menggunakan yang mana? Dua-duanya berjalan karena itu "min amrillah", ternyata itu perintahnya Allah. Jadi alam semesta ini sudah dibuat sedemikian jujur dengan hukum yang sangat hebat itu. Sekarang tinggal bagaimana kita menggunakan kedua hukum itu. Kalau anak saya lulus dan wisuda saya akan bahagia, bakal terjadi? Belum tentu terjadi, betul? Iya. Tapi kalau **saya bahagia saat ini juga, anak saya wisuda atau tidak wisuda kemungkinan wisuda datang**. Wah, ini lebih dahsyat lagi ini yang kedua ini pelajaran betul dan ini kalau dipraktikkan Bapak Ibu, Bapak Ibu semuanya, hah, berkelimpahan hidupmu. Jadi enggak usah nunggu suami baik untuk bahagia, ya, paham. Semua orang yang menunggu bahagia, dia hanya akan menjadi seorang penunggu. Tapi yang memutuskan dia **bahagia saat ini, suaminya pasti akan baik**. Jadi selama ini betapa salah kaprah kita selama ini, betul? Doa sama Allah apa yang diminta? Ya Allah, baikanlah suami saya. Saat dia meminta kepada Allah, posisi dia sedang tidak baik-baik saja. Tapi kalau dia sama Allah, "Ya Allah, saya akui pasangan hidup saya adalah pilihanmu yang terbaik buat saya. Saya berhenti menilai baik dan buruk, benar dan salah karena saya percaya dengan kebijaksanaanmu. Yang dikirim olehmu ke semesta ini adalah orang terbaik untuk mendampingi hidup saya. Saya bahagia dengan pasangan saya apapun itu." Gitu enggak Bapak Ibu? Enggak usah tepuk tangan, tapi gitu enggak? Gitu apa tidak? Pantesan enggak baik-baik, betul enggak? Nah ini kelihatan yang saya bicarakan ini cetek gitu, tetapi ini inti-inti kehidupan loh. Ini inti-inti kehidupan yang selama ini tidak disadari. Kenapa suami ingin baik malah baca surat itu, surat ini, betul enggak? Sudah baca berulang-ulang tambah enggak baik. Kenapa? Karena kita salah. Dikira apa yang kita baca dengan kata-kata itu dipahami oleh semesta? Semesta tidak mengerti itu. **Semesta mengertinya bahasa frekuensi, vibrasi, dan getaran**. Di sini enggak ada getaran, oke lanjut ya, nah [3].

[4]
sampai di situ aja sebenarnya sudah berat ini kajian, hmm ya. Kemudian Allah mengatakan, **"Innallaha la yughayiru ma biqaumin hatta yughayiru ma bianfusihim."** Ini ayat sering Bapak Ibu dengar cuman dipotong yang depannya jarang dijelaskan. Kenapa menjelaskan yang depan itu memang berat, perlu penyelaman yang dalam. Saya juga menunggu puluhan tahun untuk bisa menjelaskan ayat ini yang bagian depannya sampai saya bisa memahami ada dua hukum tadi: sebab akibat dan akibat sebab. Dan saya sudah menggunakan keduanya, saya sudah menggunakan keduanya. Ternyata menggunakan **hukum akibat sebab jauh lebih dahsyat, mensyukuri apa yang belum terjadi**. Saya misalnya dalam kondisi sakit, saya syukuri seolah-olah saya sudah sehat, saya tidak memfokuskan pikiran saya pada sakit, ternyata lebih cepat sehat daripada saya berfokus pada rasa sakit. Ajaib enggak? Wah, ini yang namanya mengikutinya di muka, wih luar biasa ya, gitu. "Innallaha la yughayiru ma biqaumin hatta yughayiru ma bianfusihim." Ini ayat sudah dipahami semua orang: sesungguhnya Allah tidak akan merubah keadaan suatu kaum sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. Pertanyaannya yang paling krusial adalah bagaimana cara mengubah nasib, kan itu masalahnya. Kan kita ingin mengubah realitas yang di luar. Ingat sekali lagi, **realitas yang di luar adalah cerminan dari realitas yang di dalam**. *Clear*? *Clear*. Oke, kalau itu pencerminan berarti yang di luar adalah bayangan dari yang di dalam, paham? Oke. Bapak Ibu bercermin, bercermin habis kerja di dapur wajah berantakan, bercermin ya. Bayangannya pasti begitu, tidak mungkin enggak berantakan. Setelah mandi kemudian segala dipakai betul, kasih merah-merah wah macam-macamlah gitu, hmm ya. Pasti di bayangannya kayak gitu lagi. Ternyata **bayangan tidak akan berubah jika kita tidak mengubah objek yang dibayangkan oleh cermin**. Jadi semakin jelas, realitas yang di luar tidak akan berubah kalau realitas di dalam tidak kita ubah. Ternyata saya menemukan orang yang berkelimpahan dengan orang yang kesulitan dalam hidupnya hanya perasaannya yang berbeda. Yang satu merasa berkelimpahan, yang satu merasa kekurangan. Yang satu percaya bahwa dia akan berkelimpahan, yang satu tidak percaya kalau itu akan terjadi, itu yang membedakan. Bukan Tuhan membeda [4].

[5]
kan nasibnya, Tuhan macam apa membeda-bedakan hambanya. Makanya Tuhan tidak akan mengubah nasibmu, betul, kalau kamu yang tidak mengubahnya. Nah sekarang dimensi mana yang harus kita ubah? Luar apa dalam? Wah, luar biasa. Jadi nyambung sekarang kajiannya **mengubah realitas dunia dengan menggunakan kekuatan langit**. Jadi langit kitanya harus dimunculkan kekuatan itu yang keren, ya. Nanti saya akan kasih seksi khusus, ya, hari ini kita akan meditasi sebentar. Nah itu ayat sering dijelaskan oleh banyak orang betul, tetapi pertanyaannya bagaimana mengubahnya? Nah **hal yang paling krusial yang harus Bapak Ibu ubah sebetulnya adalah mesin pencipta realitas yang ada dalam diri kita yang bernama alam bawah sadar**. Oke, itu yang harus diubah, ya, nanti kita ubah ya programnya. Nah ini sudah saya jelaskan. Nah dalam Quran surah Almukminun ayat yang pertama kan ada kata-kata "qod aflaha qod aflahal mukminun", ya, ada kan? Sering baca kan? Sering pada hafal. Jadi itu ayat jelas sekali: **berbahagialah orang yang beriman**. Jadi orang beriman itu cirinya apa? Bahagia. Sudah bahagia Bapak Ibu? Oh, berarti sudah beriman. Kalau ngaji itu enggak usah cari-cari alasan, ya. Ya, ulangi-ulangi. Berbahagialah orang yang beriman. Jadi orang beriman itu cirinya apa? Sudah berbahagia. Coba saya tanya siapa ingin bahagia? Acungkan tangan. Uh, ternyata belum bahagia. Jadi bohong mengaku orang beriman, hmm bohong, bohong. Saya tanya tadi Bapak Ibu sudah bahagia? Sudah kan? Harusnya ketika saya suruh acungkan tangan siapa yang ingin bahagia, enggak usah acung tangan, kan sudah. Gimana sih kalian ini? Hmm, aduh ngasal memang ngajinya ya, baru terjebak ya. Ya, yang acung tangan kan belum bahagia. Nah, konsekuensinya yang acungkan tangan ini bukan soal belum bahagia, belum beriman, betul enggak? Lah kan tadi saya bilang ciri orang beriman itu sudah bahagia, berarti yang belum bahagia belum beriman. Sok mau cari alasan ke mana? Nanti saya bahas ini 4 SKS supaya ngerti, hah. Jadi kalau kita belum bahagia dalam hidup sudah jelas belum beriman. Iya, gitu aja kok mau cari alasan apa lagi? Ini Quran kok ayatnya jelas. Nah, jadi bahagia itu selama ini jadi akibat, betul? Betul. Kita menciptakan sebab-sebab semoga akibatnya jadi bahagia. Nah sekarang kita ubah dengan ayat ini, **bahagia itu jadi sebab**. Jadi sebab dan kalau Bapak Ibu praktikkan ini [5].

[6]
hasilnya luar, luar biasa. Oke, baik. Nah saya lanjutkan ini ada pesan dari Quran surah Asyura surat Asyura surah ke-42 ayat 30. Pesannya begini: **"Wama asobakum mim musibatin fabima kasabat aidikum waffu an katsirin."** Dan apa saja musibah yang menimpa kamu, maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri dan Allah memaafkan sebagian besar. Aduh, ayat ini keren. Perhatikan saya semuanya. Jadi musibah itu adalah sebutan buat segala sesuatu yang disebut buruk, bukan buat sesuatu yang tidak diharapkan kedatangannya, bukan. Betul? Kalau sesuatu yang diharapkan kedatangannya kan sering disebutnya berkah, betul. Nah, jadi musibah itu istilah yang kita pakai untuk menyebut sesuatu yang kita tidak suka. Nah, ternyata menurut Allah apapun yang disebut buruk dan tidak disukai kehadirannya olehmu, kata Allah, itu disebabkan perbuatan tanganmu sendiri. Nah kalau begitu yang namanya kebaikan dari mana? **Kebaikan mutlak dari Allah**. Jadi kalau begitu kalau kita sejalan hidupnya dengan Allah, artinya dari ayat ini enggak ada musibah. Makanya orang-orang Barat menyebut Allah itu cinta, *love*. Tapi cinta bukan rasa perasaan, cinta yang dimaksud mereka itu adalah **kekuatan positif**. Makanya Rhonda itu membuat buku judulnya *The Power Secret of The Power*. Apa yang diceritakan? Yang diceritakan di buku itu adalah bagaimana kita bisa memancarkan cinta, kekuatan positif maksudnya dan itu yang menarik semua hal yang positif dalam hidup. Makanya dalam hidup cuma ada dua, ada cinta dan ada ketiadaan cinta, gitu aja. Jadi sebetulnya ketika kita menarik hal-hal yang tidak kita harapkan dalam hidup sebetulnya kita sedang mengalami ketiadaan cinta, gitu aja. Nah ketiadaan cinta, kalau cinta itu adalah Dia Tuhan sumber kekuatan positif, berarti ketiadaan cinta itu sebetulnya adalah kehampaan diri dari perasaan kehadiran Tuhan. Wah, kalau dibahas lebih dalam lagi makanya ada rumus di fisika ini, ini rumus ya, ini rumus adanya kalau belajar fisika modern fisika kuantum itu ketemu rumus ini. Jadi **E yang besar itu, itu lambang dari energi. Sedangkan H itu H itu Konstanta Planck, menghormati seorang fisikawan pemenang hadiah Nobel namanya Max Planck, dia orang Jerman. Dia adalah sahabatnya Einstein yang pertama kali membuktikan teori radiasi benda hitam. Di situlah munculnya awal sebutan fisika kuantum, kuantu** [6].

[7]
**m itu dari kuanta, kuanta itu artinya paket**. Sebetulnya makanya cahaya yang mengalir di sini ke muka saya dulu dianggap sebagai perambatan energi yang kontinue. Setelah ketemu fisika kuantum ternyata ini adalah paket-paket energi. Satu paket energi itu harganya adalah **E = H dikalikan dengan F**. H itu konstanta Planck nilainya 6,62 * 10^-34 joule detik. Satuan energi itu joule, ya. Sedangkan **F itu adalah frekuensi**. Lihat saya semuanya, banyak yang enggak ngerti frekuensi apa. Frekuensi itu **banyaknya kejadian persatuan waktu**, ingat tuh frekuensi. Frekuensi mobil, banyaknya mobil yang lewat di satu titik persatuan waktu, itu namanya frekuensi. Jadi kalau ngitung frekuensi harus di waktu yang sama. Oh, frekuensi mobil sekarang meningkat itu artinya dalam 1 menit jumlah mobil yang lewat itu lebih banyak, hitungannya harus di satuan waktu yang sama. Nah kalau bicara frekuensi berarti berbicara peristiwa. Ini peristiwa yang sedang dibicarakan. Ternyata semua orang sekarang bersepakat bahwa ya **alam semesta ini semuanya isinya adalah energi**. Yang namanya energi, energi nah di dalamnya ada gelombang. Nah jumlah gelombang yang melewati satu titik persatuan waktu itu yang disebut dengan frekuensi. Berarti kalau jumlah gelombangnya yang lewat makin banyak berarti frekuensinya makin besar. Makanya **energi sama dengan konstanta kali frekuensi**. Energi dengan frekuensi berbanding lurus, makin besar frekuensinya makin besar energinya, *clear*? *Clear*. Oke, pernah difoto enggak pakai sinar X? Pernah kan? Oke, ya. Ada yang patah di kaki enggak kelihatan tuh pakai mata kasat. Oleh karena itu maka minta bantuan X-ray, sinar X. Nah **sinar X itu sinar yang frekuensinya besar sehingga energinya besar**, gitu. Makanya dengan menggunakan sinar X ternyata dia bisa menembus daging sehingga tulang yang patah itu menjadi jelas, bisa diprint out sehingga dokter memastikan gini loh cara terapinya, gitu. Paham ya? Jadi sinar X itu ya sinar dengan frekuensi tinggi. Beda dengan sinar dari lampu ini, ini frekuensi rendah. Nah **frekuensi berbanding terbalik dengan panjang gelombang**. Makanya sinar yang datang ke sini ini frekuensinya rendah, panjang gelombangnya besar. Nah kalau sinar X frekuensinya besar, panjang gelombangnya pendek. Nah orang-orang fisika sekarang tahu bahwa ya yang disebut dengan alam semesta i [7].

[8]
ni, alam semesta ini ternyata terbuat dari energi. Energi yang memadat kemudian membangun yang disebut dengan materi. Ternyata yang disebut dengan materi pun ketika dibelah-belah kan ujungnya atom. Ternyata atom pun di dalamnya sebetulnya adalah ruang kosong, hanya pusaran-pusaran energi, energi lagi jadinya. Makanya **materi kata Einstein setara dengan energi, E = massa dikalikan kecepatan cahaya dikuadratkan**. Itu dalam fisika klasik seperti itu, tapi saya bicara dalam konteks fisika modern. Oke, perhatikan saya sekarang. Nah semua orang sepakat bahwa ya **pikiran itu energi, perasaan juga energi**, betul? Kalau kita hanya menggunakan pikiran dan perasaan menciptakan realitas berarti tidak total dong. Nah sedangkan tubuh kita tersusun dari 100 triliun sel. Nah di dalam tubuh kita itu berarti ada atom, berarti ada energi, ada energi karena massa setara dengan energi. Jadi kalau kita bisa menggunakan totalitas keseluruhan kekuatan yang ada dalam diri kita **bukan hanya pikiran, bukan hanya perasaan, tetapi tubuh dengan jumlah selnya yang sekian banyak sebagai sumber energi, berarti tubuh ini bisa memancarkan frekuensi tinggi ke semesta dan itu yang didengar oleh semesta dan itu akan membangun realitas di frekuensi tinggi**. Jadi kalau begitu bisakah kita menciptakan realitas seperti yang kita mau? Bisa. Tapi tidak cukup hanya dengan pikiran dan perasaan. Kita harus menciptakan keamanan kenyamanan di tubuh kita sehingga seluruh sel kita selaras. Nah makanya ada kata-kata kalau ingin berdoa maka selaraskan tubuhmu, pikiranmu, jiwamu, dan kesadaranmu. Bapak Ibu, kalau Bapak Ibu menyempatkan waktu 7 menit saja sehari, 7 menit ya. Pertama gunakan pikiran untuk **imajinasi**. Perhatikan saya, imajinasi. Imajinasi itu adalah mencipta segala sesuatu yang kita ingin dalam hidup ini. Tetapi **imajinasi tidak boleh berlawanan dengan hukum cinta, tidak boleh mengimajinasikan yang negatif**. Misalkan mengimajinasikan kebangkrutan orang lain karena dendam, enggak boleh. Itu sudah melawan hukum tarik-menarik, hukum cinta dan itu yang terjadi, ya, itu yang akan terjadi. Jadi bukan orang yang kita bayangkan hancur, bukan. Itu akan memantul dulu gemanya pada dirimu sendiri. Itu yang dikatakan di ayat tadi, **segala yang buruk berasal dari tanganmu sendiri**. Jadi semua yang buruk itu bukan dari orang [8].

[9]
dari tanganmu sendiri, bukan dari Allah, dari tanganmu sendiri. Karena dari Allah itu dasarnya semua yang baik-baik saja. Jadi kalau kita hidup sejalan dengan Allah maka disebut **Bani Israil**. Bani itu orang, Isra itu berjalan, Il itu Tuhan. Kalau kita menjadi Bani Israil, hidup sejalan dengan Tuhan, maka kata Tuhan "Ya Bani Israil uzkuru nikmat Allah alaikum wa fadolukum alal alamin." Maka kamu akan mendapatkan banyak keutamaan dariku. Bani Israel ya siapa saja orang memang berjalan menuju Tuhan, tidak ada kaitannya dengan satu bangsa itu mah cuma minjam aja nama dari Al-Qur'an, awas harus cerdas. Paham sampai sini ya? Siapkan waktu 7 menit setiap hari. Gimana caranya? Perhatikan saya, nanti kita praktikkan ya. Caranya apa? Pertama adalah **imajinasi**. Yang kedua, semua yang diimajinasikan itu **dirasakan seolah-olah itu sudah terjadi**. Oke, jadi menciptakan akibatnya duluan ya di muka bukan di belakang. Nah, tetapi di saat yang sama, di saat yang sama **tubuh kita harus dalam keadaan aman nyaman dan tubuh kita sedang memproduksi hormon-hormon positif yang membuat tubuh kita memiliki keselarasan dengan pikiran dan perasaan kita. Gimana caranya? Di situlah pentingnya sebelum dimulai lakukan dulu olah nafas. Jadi kesadaran napas kita ini harus dibangkitkan dulu. Ketika kita menyadari napas apa yang terjadi? Kita terhubung ke bagian dalam dari diri kita yang namanya pikiran bawah sadar. Di situ kita sedang menanam benih realitas baru yang sedang diciptakan pikiran dan perasaan secara berulang-ulang dan itu akan dipancarkan ke seluruh semesta, itu rahasianya, hmm.